Rabu, 12 November 2014

Pemelajaran Berbasis-Otak : Paradigma Pengajaran baru


CRITICAL REVIEW
Pemelajaran Berbasis-Otak : Paradigma Pengajaran baru

Penulis : Eric Jensen


Tugas Mata Kuliah
Research Methodologi in Islamic Studies
Oleh : M.Azhar Alwahid
 Nim : 13.3.00.1.03.01.0007







SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014


Pemelajaran Berbasis-Otak : Paradigma Pengajaran Baru

A. Pendahuluan
Pada dasarnya tujuan pendidikan adalah merubah perilaku siswa dari yang kurang baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik lagi. Dan tujuan secara umum adalah adanya perubahan tingkah laku dari peserta didik itu sendiri. Usaha mulia ini bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah akan tetapi juga menjadi tanggung  jawab orang tua dan lingkungan masyarakat. Tanpa dukungan dari salah satu komponen tersebut tujuan pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.
Setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan dalam mendidik, hal ini di pengaruhi oleh budaya masyarakat yang ada, akan tetapi apakah budaya masyarakat tersebut sesuai dengan konsep pendidikan yang sudah di rumuskan oleh para ahli atau justru bertentangan dengan konsep yang ada. Hal tersebut perlu di adakan penelitian lanjutan. Di beberapa negara yang sedang berkembang, sistem pendidikan di negera tersebut juga sedang mengalami pencarian bentuk sistem yang cocok untuk di terapkan di negera itu, termasuk juga Indonesia. Dalam beberapa dekade perubahan kurikulum terus di lakukan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan. Dari mulai kurikulum 1975, kurikulum 1984 (CBSA), kurikulum 1994, kurikulum 2004(KBK), kurikulum 2006 (KTSP) dan terakhir Kurikulum 2013. Perubahan kurikulum tersebut tak lepas dari perubahan konsep dan perkembangan konsep yang di kembangkan oleh para ahli pendidikan.
Kurikulum 2013 merupakan serentetan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah di rintis tahun 2004 yang berbasis kompetensi lalu di teruskan kurikulum 2006 (KTSP). Dalam pemaparanya Menteri pendidikan dan Kebudayaan Prof. Ir Muhamad Nuh, menegaskan bahwa kurikulum 2013 lebih di tekankan pada kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Adapun ciri kurikulum yang paling mendasar ialah  menuntut kemampuan guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena siswa jaman sekarang telah mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi sedangkan untuk siswa lebih di dorong untuk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antarpersonal, maupun memiliki kemampuan berpikir kritis. Tujuannya adalah terbentuk generasi produktif, kreatif, inovatif, dan efektif.[1]
Perubahan Kurikulum yang selalu mengalami evaluasi dan penyempurnaan, tidak akan berhasil apabila tidak diiringi oleh kemampuan guru dalam melaksanakan kurikulum di lapangan. Dalam banyak hal pengelolaan kelas dan penanganan siswa menjadi tanggung jawab guru dan sekolah sehingga keberhasilan pendidikan tergantung sejauh mana seorang guru dapat mengelola kelasnya dengan baik. Untuk dapat mengelola kelas yang baik, para ahli pendidikan menelurkan berbagai macam teori salah satunya adalah Eric jensen seorang ahli pendidikan yang berkonsentrasi pada pembelajaran berbasis otak. Penelitian beliau juga di dukung oleh para peneliti lain yang mulai berkonsentrasi pada bagian otak manusia, yang merupakan objek dari pendidikan itu sendiri.

B.    Pemelajaran berbasis otak
Eric Jensen adalah salah seorang penulis yang berkonsentrasi pada studi tentang otak khususnya yang berkaitan dengan pemelajaran, karena berlatar-belakang seorang guru yang mengajar dari mulai tingkat Dasar sampai Universitas, dia sangat memahami proses pemelajaran yang sesungguhnya di kelas. Pada Tahun 1981, dia ikut mendirikan super camp, program pemelajaran yang kompatibel dengan otak, terbesar dan pertama di amerika Serikat; sekarang sudah menghasilkan 50.000 tamatan. Dia sudah menulis 21 buku tentang belajar dan otak. Dan dia juga telah melakukan lebih dari 45 kunjungan ke laboratorium ilmu syaraf dan berinteraksi dengan banyak sekali ilmuan syaraf. Dia juga telah mendirikan The Learning Brain Expo dan telah mendidik para pendidik dan trainer dalam bidang ini selama 25 tahun.  Dalam bukunya yang berjudul Pemelajaran berbasis-Otak (Brain-Based Learning) Eric Jensen mendefinisikan  Pemelajaran berbasis-Otak  adalah cara berpikir tentang proses pembelajaran yang merupakan satu perangkat prinsip dan basis pengetahuan serta keterampilan. Atas dasar itu kita dapat mengambil keputusan lebih baik tentang proses pemelajaran (Learning). Pendidikan berbasis otak adalah keterlibatan strategi yang di dasarkan pada prinsif-prinsif yang berasal pada satu pemahaman tentang otak. Sedikitnya ada tiga kata kunci yang di pahami yaitu : Keterlibatan, Strategi dan prinsif. Pendidikan berbasis otak mempertimbangkan bagaimana otak belajar dengan optimal.
Kemampuan berpikir itu sangat tergantung pada suasana hati (mood) dan keadaan emosional. Seorang Neuroscientis yang terkenal dari University of southern California Antonio Damasio (1994) berargumentasi bahwa otak itu merupakan ekstensi alamiah dari tubuh. Reaksi kimia emosi biasanya akan tercerminkan bagaimana perasaan kita. Cara kerja otak adalah bahan-bahan kimia otak (neurontransmitters dan neuropeptides) di lepaskan dari neuron dan di transmisikan ke banyak area otak dan tubuh. Reaksi otak terhadap ancaman biasanya terjadi apabila perubahan di aliran darah ke otak juga secara negatif sehingga berdampak pada pembelajar (siswa) yang terancam. Menurut Drevest dan raichle (1998) dari University of Pittsburg ketika berhadapan dengan ancaman kita mengalami peningkatan aliran darah ke area bawah lobus Frontal (Ventral) dan berkurangnya aliran ke area atas (darsal) lobus frontal.[2]
Roger Sperry membagi belahan otak menjadi dua hemisfer (belahan) yaitu otak kiri dan otak kanan dan masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Pendapat ini juga mengidentifikasi bahwa antara otak kiri dan otak kanan tidak ada yang lebih mendominasi antara satu sama lainya, yang membedakan hanya fungsi dan cara kerjanya. Otak kanan lebih imajinatif sedangkan otak kiri lebih matematis analitis.[3]  Berdasarkan penelitian, Robert Ornstein mengemukakan bahwa kekuatan dan kelemahan yang berkelanjutan dari keterampilan seseorang sangat tergantung pada kebiasaan (latihan) yang ia lakukan. Jadi, kelemahan dan kelebihan kita tidak semata hanya di tentukan oleh bakat dan bawaan.[4] Untuk mengembangkan keterampilan, kita harus bisa menyeimbangkan fungsi kedua belahan otak kiri dan otak kanan. Keduanya saling memberikan pesan dan sinyal melalui bagian yang di sebut  Korpus Colosum. Melalui proses ini, kita dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri peserta didik kita.
Puluhan ilmuan terkemuka mencatat perbedaan fisik antara otak pria dengan otak wanita. Perbedaan struktural ini bisa mengakibatkan perbedaan perilaku, pengembangan dan pengolahan kognitif antara pria dan wanita.[5] Pertama semua perbedaan itu berada pada kurva berbentuk lonceng yang tumpang tindih pada kedua gender. Bagi para pemula pada umumnya pria memiliki otak sepuluh sampai lima belas persen lebih besar dari pada wanita. Anak laki-laki umumnya berkinerja lebih tinggi dari pada anak perempuan dalam ukuran tugas-tugas sepasial, dan anak perempuan melebihi anak laki-laki dalam keterampilan verbal dan membaca pada tingkat usia awal.
Perbedaan fungsional pendengaran, penglihatan, sentuhan, aktivitas, penciuman, citarasa, dan pemecahan masalah. Dampak dari gerakan fisik pada otak. Ada beberapa manfaat pelatihan fisik pada otak yaitu : 1). Meningkatkan sirkulasi sehingga saraf-saraf individual bisa mendapatkan lebih banyak oksigen dan nutrisi, 2). Bisa memacu produksi faktor pertumbuhan syaraf hormon yang meningkatkan fungsi otak tiga gerakan refetitif gross motor dapat merangsang produksi dopamin.[6] Salah satu neurotransmiter yang meningkatkan suasana hati (mood).Van pragg, christie, sejnowski dan gage (1999) mengatakan bahwa latihan reguler bisa merangsang pertumbuhan sel-sel otak baru dan memperpanjang bertahan hidupnya sel-sel yang ada.[7]
Pada setiap anak yang belajar pasti mengalami stres. Stres adalah reaksi tubuh anda terhadap suatu persepsi bukan suatu realitas. Tugas guru adalah mengubah persepsi anak sehingga dapat mengubah level stres anak didiknya dari tinggi ke level yang lebih rendah. Salah satu cara untuk menghilangkan stres salah satunya dengan latihan fisik pada otak yang bertujuan: 1). Meningkatkan sirkulasi sehingga saraf individual bisa lebih baik mendapatkan oksigen dan nutrisi. 2). Memacu produksi faktor pertumbuhan saraf, hormon yang meningkatkan fungsi otak, 3). Dapat merangsang produksi dopamin dan membantu meningkatkan suasana hati (mood) dan produksi sel baru pada otak. 4). Dengan berolah raga sehingga reaksi kimia dari aktifitas fisik kita akan merasa lebih baik.[8]  Oleh sebab itu  guru harus banyak melibatkan siswa dalam berbagai macam kegiatan (Aktifitas) sehingga dapat mengurangi stres pada anak.
Ada beberapa macam stres yang perlu di perhatikan yaitu : 1).Eustress yaitu stres yang baik atau stres tidak kronis/akut. 2). Distross terjadi ketika kita merasa terancam oleh beberapa bahaya fisik dan emosional, intimidasi, rasa malu kehilangan prestise takut di tolak/gagal, batasan waktu yang tidak realitas / kekurangan pilihan yang tidak di pahami.[9]
Setiap otak dapat mengalami stres salah satunya adalah ancaman yang di definisikan sebagai rancangan apapun yang menyebabkan otak memicu satu rasa takut tak berdaya. Ada beberapa perbedaan antara stres positif, stres sedang dan distres satu stres positif atau sedang itu baik untuk pembelajaran sedangkan distres dan ancaman tidak baik . stres yang kronis membuat siswa lebih rentan terhadap penyakit. Dalam sebuah study (johnston brook, lewis, evans dan whalen) pembelajar yang di periksa sebelum waktu tes menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh tertekan dan menurunkan level anti body untuk memerangi inveksi.
Menurut sebuah studi yang di lakukan oleh Reis dan Dias (1999) meskipun orang tua tidak banyak terlibat dalam pengajaran akademik dari sembilan siswa SLA yang berbeda secara etnis dan tidak beruntung secara ekonomi. Para siswi terus berprestasi baik pada tes- tes prestasi dan dalam usaha-usaha keras akademik lainnya. Stres ringan dapat memberikan dorongan atau motifasi yang perlu untuk menyelesaikan suatu tugas yang menantang.
Beberapa studi mengemukakan bahwa lingkungan stres yang rendah meningkatkan kemampuan siswa untuk menerima pembelajaran yang rumit dan baru.[10] Perubahan dalam aliran darah ke otak juga secara negatif berdampak pada pembelajaran yang terancam. Menurut drevest dan raichle (1998) dari University of Pittsburg, ketika berhadapan dengan ancaman kita mengalami peningkatan aliran darah ke area bawah lobus frontal ( ventral) dan berkurangnya aliran ke area atas (darsal) lobus frontal.
Otak menjadi lebih mudah lelah bila kondisi untuk pembelajaran kurang optimal. Untuk mendapatkan kinerja otak terbaik perlu ada istirahat psikologis yang dalam.  Oleh sebab itu seorang guru harus bisa menciptakan berbagai media dan lingkungan yang dapat mendukung kerja otak anak dengan optimal diantaranya dengan memberikan kontribusi sensori terhadap pembelajaran dan salah satunya dengan menggunakan berbagai macam warna.
Pada umumnya yang pertama kita ingat adalah warna dan yang kedua adalah isinya berupa gambar kongkrit. Menurut  fike dan taylor (1984) gambar hidup yang kongkrit adalah yang paling berpengaruh karena otak memiliki bias perhatian untuk kontras dan kebaruan yang tinggi, 90% masukkan sensori otak adalah dari sumber visual, otak memiliki satu tanggapan langsung dan primitif terhadap simbol, ikon dan gambar sederhana lainnya. Dampak lingkungan sekitar dalam bentuk apirmasi positif, kerja yang di hasilkan pembelajaran dan gambar yang melukiskan perubahan, pertumbuhan, dan kecantikan, dapat menjadi wahana ekspresi yang sangat berpengaruh. Dampak positif dari lingkungan pembelajaran bermutu dengan menerangkan alamiah yang kuat itu dramatis, sekaligus bertahan lama. Kesimpulannya, apapun yang mempengaruhi keadaan mental kita pada gilirannya mempengaruhi pembelajaran kita.
Selain itu juga ada beberapa hal yang berpengaruh terhadap perkembangan belajar anak yaitu: 1). Lingkungan fisik yang buruk misal jendela pecah, kamar mandi yang rusak, atap yang bocor, padatnya siswa 2). Lingkungan yang ramah terhadap otak contohnya akustik, penerangan yang lebih baik, suhu, kelembaban/ventilasi udara 3). Pandangan optimal/tempat bermain yang luas 4). Staf area sekolah yang cerdas memberikan sekurang – kurangnya tiga tempat di mana guru bisa mendapat dukungan diantaranya : tempat refleksi yang cukup terang,  satu pusat pembelajaran perpustakaan / pusat medis, area destres dengan satu tread mil (tempat olah raga yang tidak berat).[11]
Selain itu juga seorang guru harus bisa memperhatikan asupan nutrisi dan vitamin demi kelancaran belajar mengajar. Larie, koehler, wayne dan chivlli (1997), ramakrishna (1999) menyimpulkan bahwa suplemen vitamin dapat menghasilkan manfaat bahkan jika orang sudah makan secara cerdas. Efek kekurangan cairan /dehidrasi dapat berpengaruh terhadap otak. Mengkonsumsi air dapat merendahkan respon stres pada tubuh. Selain itu juga pentingnya minum air putih untuk kelangsungan hidup seseorang sehingga berdampak pada keseimbangan tubuh. Selain itu musim juga mempengaruhi pemelajaran, terangnya matahari mempengaruhi pemelajaran karena lama dan terangnya siang hari mempengaruhi level melatonim dan hormon tubuh serta mempengaruhi pelepasan neurotransmiter. Satu bagian dari hipotalamus (berlokasi di wilayah diensafalon) mendapatkan informasi langsung dari mata dan menetapkan jam waktu tubuh. Hal ini mempengaruhi konsentrasi, energi, dan suasana hati (mood)
Akustik juga berperan dalam pembelajaran, akustik yang jelek adalah masalah besar bagi sekolah, ruang kelas yang tidak di rancang dengan baik, yang gagal mengatur dan mengurangi keberisikan, efek gema, gaung dan masalah akustik lainya, ikut menurunkan perhatian siswa dan meningkatkan perilaku di luar tugas. Siswa menjadi tidak disiplin sehingga menimbulkan gangguan serius pada pemelajaran. Otak kita umumnya memproses sampai 20.000 bit rangsangan auditori setiap detik. Ini berarti bahwa hampir setiap suara dalam kisaran 20 sampai 15.000 siklus perdetik merupakan sasaran pengolahan.
Musik juga berperan terhadap jiwa-badan (Mind-Body), peran guru yang menggunakan musik secara memadai dapat mengelola status emosional siswa. Karena didalam otak kita sudah terpasang sistem yang bereaksi terhadap musik. Wallin, Marker dan Brown (19990) mengatakan bahwa musik mungkin merupakan bentuk komuinikasi universal yang mempengaruhi pemeliharaan spesies dan memainkan peran dalam menarik pasangan, mengikat dan harmoni. Weinberger (2004) seorang neuronscientist pada Universitas of California di Irvine dalam risetnya mengemukakan bahwa auditory cortek menganggapi titinada dan bukan hanya prekuensi suara mentah dan bahwa sel-sel otak individual mengolah kontur bodi.sehingga dia berklesimpulan mendukung teori bahwa otak di khususkan untuk membangun blok musik.riset terbaru juga mengemukakan bahwa musik mungkin menjadi alat yang hebat dalam membangun kekuatan penalaran, memori dan intelegensi.
Eric jensen memberikan strategi untuk mengelola keadaan pembelajaran :
1.         Aktivitas. Fasilitasilah satu perubahan ke perubahan lain, intensifkan keterlibatan pemelajaran, biarkan sesi peregangan atau permainan untuk energizing, bergeserlah dari kerja individual ke kerja kelompok, pindahkan lokasi, atau lakukan sesuatu yang baru.
2.         Lingkungan. Ciptakan satu pergeseran energi dengan penerangan,tempat duduk atau perubahan temperatur, gunakan aroma, suara ion, tanaman, atau warna. Sediakan lingkungan yang aman secara emosional.
3.         Sumber Multi Media. Gabungkan Video, program komputer, sistem proyeksi overhead, musik atau slides.
4.         Orang. Gantilah pembicara, atau geserlah fokus visual pemelajar; mintalah siswa mengajarkan siswa lain. Geserlah ke kelompok atau studi- dengan aman.
5.         Nada. Sediakan satu pergeseran dalam tema, jadwal, bingkai, waktu, tujuan, sumber daya, aturan atau opini.
6.         Fokus. Fasilotasilah latihan pernapasan (hirup dan hembus secara perlahan melalui hidung); gabungkan visualisasi dan penggambaran.
7.         Pilihan. Sediakan pilihan bagi pemelajar; mintalah input mereka. Motivasi siswa meningkat ketika anda meningkatkan kontrol dan akuntabilitas mereka. Sediakan sebuah lingku ngan yang aman, unmpan balik yang sering, peluang ikatan sosial yang positif dan nutrisi serta air yang memadai. Libatkan banyak gaya belajar.
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran berbasis otak adalah belajar sesuai dengan cara otak yang di rancang secara alamiah untuk belajar. Tugas guru yang paling penting adalah mengajarkan anak bagaimana caranya belajar bukan hanya mentransfer ilmu sebanyak-banyaknya. Richard feynman (ahli fisika) mengatakan dia akan membaca teks sampai dia mendapatkan sesuatu yang tidak dapat di fahaminya maka ia akan beristirahat lalu melihat dan membacanya lagi. Feynman menerima hadiah nobel fisika (1965) karena penemuannya dalam fisika quantum  ” jika anda merasa perlu, ambil saja jeda pada paragraf mana saja ketika anda kembali membacanya anda akan siap untuk mendapatkan pengertian lebih banyak.” itulah sebagian dari cara belajar yang di kemukakan oleh beberapa ahli dengan memperhatikan cara kerja otak.
Kelebihan dari Buku ini
Buku ini mengupas habis tentang otak dan kaitanya dengan pembelajaran. Sehingga kita sebagai seorang guru yang kurang memahami tentang cara kerja otak dapat mudah memahami dengan membaca buku ini. Buku ini juga merangsang pembaca untuk membaca lebih dalam, dan menginspirasi para pembaca untuk melakukan penelitian lanjutan berkaitan dengan pembelajaran dan otak karena beberapa indikator yang di sebutkan penulis perlu diadakan penelitian dan pembahasan lebih dalam lagi.

Kekurangan dari Buku ini
Buku ini kurang mengkaitkan antara belajar siswa di kelas dengan lingkungan di mana siswa tinggal dan latar belakang siswa itu sendiri yang berkaitan dengan budaya dan ekonomi orang tua siswa, karena menurut penulis kerjasama antara guru, orang tua dan lingkungan sangat di perlukan. Prof Dr. Yusuf Amir Feisal mengatakan bahwa keluarga merupakan unit kecil suatu masyarakat yang menjadi landasan terbentuknya suatu negara atau pemerintahan.[12] Jadi peran keluarga dalam pendidikan anak tidak dapat di lupakan begitu saja. Selain itu juga buku ini kurang mendalam membahas tentang peran Multi media terhadap pembelajaran di kelas dan kaitanya dengan cara kerja otak.  Paul Eggen dan Don Kauchak mengatakan bahwa teknologi kini merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita, melek teknologi menjadi keahlian dasar, yang signifikansinya hanya berada di bawah membaca, menulis, dan matematika.[13]oleh sebab itu perlu di jelaskan kembali peran media dalam pembelajaran secara lebih dalam lagi dan perlu adanya penelitian yang lebih mendalam tentang peran Multi Media dalam pembelajaran.  
Metodologi yang di gunakan
Metodologi yang di gunakan oleh penulis adalah metode survey hal ini terbukti dengan kunjungan penulis ke 45 laboratorium ilmu syaraf dan berinteraksi dengan banyak sekali ilmuan syaraf.
Penelitian survei merupakan suatu teknik-teknik pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan pada responden. Dalam penelitian survei, peneliti meneliti karakteristik atau hubungan sebab akibat antar variabel tanpa adanya intervensi peneliti.[14]
Terdapat enam langkah dasar dalam melakukan sebuah penelitian survei, yakni:
  1. Langkah pertama, yaitu dengan membentuk hipotesis awal, menentukan jenis survei yang akan dilakukan akankah melalui survei (e-mail), wawancara (interview), atau telepon, membuat pertanyaan-pertanyaan, menentukan kategori dari responden, dan menentukan setting penelitian.
  2. Langkah kedua, yaitu merencanakan cara untuk merekam data dan melakukan pengujian awal terhadap instrumen survei.
  3. Langkah ketiga, yaitu menentukan target populasi responden yang akan di survei, membuat kerangka sampel survei, menentukan besarnya sampel, dan memilih sampel.
  4. Langkah keempat, yaitu menentukan lokasi responden, melakukan wawancara (interview), dan mengumpulkan data.
  5. Langkah kelima, yaitu memasukkan data ke komputer, mengecek ulang data yang telah dimasukkan, dan membuat analisis statistik data.
  6. Langkah keenam, yaitu menjelaskan metode yang digunakan dan menjabarkan hasil penemuan untuk mendapatkan kritik, serta melakukan evaluasi.
Terdapat 3 jenis penelitian survei dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
  1. Melalui surat (mail-questionare) merupakan cara untuk menguji tanggapan responden melalui pengiriman kuesioner via pos. Kelebihan dari mail-questionare adalah hemat biaya, hemat waktu, responden bisa memilih waktu yang tepat baginya untuk mengisi kuesioner, ada jaminan kerahasiaan (anonymity) yang lebih besar, keseragaman kata (tidak dibacakan lagi), tidak ada bias pewawancara, serta banyak responden yang dapat dicapai (dibandigkan dengan pengiriman pewawancara ke banyak tempat). Sedangakan, kekurangannya adalah tidak fleksibel, terdapat kecenderungan rendahnya tanggapan (response rate), hanya perilaku verbal yang tercatat, idak ada kendali atas lingkungan (ribut, diganggu), tidak ada kendali atas urutan pertanyaan, bisa menyebabkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, tidak bisa merekam jawaban secara spontan, kesulitan untuk membedakan antara tidak menjawab (non-response) dengan salah alamat, tidak ada kendali atas waktu pengembalian, tidak dapat menggunakan format yang kompleks, dan bisa mendapatkan sample yang bias.[2]
  2. Metode wawancara tatap muka (face-to-face interview) merupakan cara untuk menguji tanggapan responden dengan bertemu muka atau berhadapan langsung. Kelebihan dari penelitian face-to-face interview adalah fleksibilitas, tingkat respon (response rate) yang baik, memungkinkan pencatatan perilaku non verbal, kendali atas lingkungan waktu menjawab, kemampuan untuk mengikuti urutan pertanyaan dan pencatatan jawaban seecara spontan, responden tidak bisa curang dan harus menjawab sendiri, terjaminnya kelengkapan jawaban dan pertanyaan yang dijawab, adanya kendali atas waktu menjawab pertanyaan, serta dapat digunakan untuk kuesioner yang kompleks. Sedangkan, kelemhannnya adalah biayanya yang mahal, waktu yang dibutuhkan untuk bertanya dan untuk berkunjung ke lokasi, bias pewawancara, tidak ada kesempatan bagi responden untuk mengecek fakta, mengganggu responden, kurang menjamin kerahasiaan, kurangnya keseragaman pertanyaan, serta kurang bisa diandalkan untuk mencapai banyak responden.
  3. Wawancara telepon (telephone interview) merupakan cara menguji tanggapan respondenvia telepon. Kelebihan dari telephone interview adalah tingkat respon (Respon rate) lebih tinggi dari mail atau self administered. memnungkinkan untuk menjangkau geografis yang luas/ jauh, waktu lebih singkat, dapat mengontrol tahapan pengisian kuesioner, dapat melakukan pertanyaan lanjutan probing, dan memungkinkan untuk format pertanyaan yang lebih kompleks. Sedangkan, kekurangannya adalah biaya tinggi, panjang wawancara terbatas, terbatas untuk responden yang memiliki telepon, mengurangi anonimitas, memungkinkan bias pewawancara, sulit untuk pertanyaan terbuka, membutuhkan bantuan visual, serta hanya dapat mencatat hal-hal tertentu dari latar belakang suara atau intonasi suara.

Selain itu penulis juga mengunakan studi pustaka sebagai referensi penulisan bukunya.Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektroniklain.[15]

C. Relevansi dengan penelitian yang penulis lakukan

Judul Penelitian yang penulis lakukan adalah “ Model Pemelajaran Multi Media Ramah Otak (MRO) dalam pemelajaran PAI di SMA Kabupaten Bogor “, Relevansi dengan penelitian yang penulis lakukan dengan bukunya Eric Jensen adalah, sama-sama membahas  tentang pembelajaran berbasis otak, dan buku ini juga menjadi rujukan utama dalam penelitian yang penulis lakukan.  
Kelebihan
Kelebihan penelitian yang penulis lakukan lebih spesifik pada Multi Media, sehingga model pembelajaran yang akan di kembangkan akan mudah di terapkan di dalam kelas. Penulis berharap model yang akan penulis kembangkan dapat menjadi model yang bermanfaat dalam pemelajaran di kelas dan menjadi rambu-rambu dalam memanfaatkan multi media dalam pemelajaran sehingga multi media tersebut sesuai dengan cara kerja otak siswa. Otak siswa akan lebih mudah menerima rangsangan pelajaran yang baik yang di berikan oleh guru, sehingga dapat melahirkan siswa yang ktreatif, inovatif dan berwawasan global.


Kekurangan
Minimnya pengetahuan penulis tentang ilmu Otak menyulitkan penulis memahami berbagai macam istilah yang berkaitan dengan otak. Keterbatasan penulis dalam menterjemahkan bahasa asing juga menjadi kendala bagi penulis untuk mengeksplorasi berbagai macam teori yang bersumber dari buku-buku asing tersebut.


D. Penutup
Pemelajaran berbasis otak adalah belajar sesuai dengan cara otak yang di rancang secara alamiah untuk belajar. Tugas guru yang paling penting adalah mengajarkan anak bagaimana caranya belajar bukan hanya mentransfer ilmu sebanyak-banyaknya. Sedikitnya ada tujuh hal yang di sarankan oleh Eric Jensen untuk mengembangkan dan mengelola keadaan pemelajaran berbasis Otak diantaranya : 1). Aktivitas. Fasilitasilah satu perubahan ke perubahan lain, intensifkan keterlibatan pemelajaran, biarkan sesi peregangan atau permainan untuk energizing, bergeserlah dari kerja individual ke kerja kelompok, pindahkan lokasi, atau lakukan sesuatu yang baru; 2). Lingkungan. Ciptakan satu pergeseran energi dengan penerangan,tempat duduk atau perubahan temperatur, gunakan aroma, suara ion, tanaman, atau warna. Sediakan lingkungan yang aman secara emosional; 3). Sumber Multi Media. Gabungkan Video, program komputer, sistem proyeksi overhead, musik atau slides; 4). Orang. Gantilah pembicara, atau geserlah fokus visual pemelajar; mintalah siswa mengajarkan siswa lain. Geserlah ke kelompok atau studi- dengan aman; 5). Nada. Sediakan satu pergeseran dalam tema, jadwal, bingkai, waktu, tujuan, sumber daya, aturan atau opini; 6). Fokus. Fasilotasilah latihan pernapasan (hirup dan hembus secara perlahan melalui hidung); gabungkan visualisasi dan penggambaran; 7). Pilihan. Sediakan pilihan bagi pemelajara; mintalah input mereka. Motivasi siswa meningkat ketika anda meningkatkan kontrol dan akuntabilitas mereka. Sediakan sebuah lingku ngan yang aman, unmpan balik yang sering, peluang ikatan sosial yang positif dan nutrisi serta air yang memadai. Libatkan banyak gaya belajar.
Demikianlah  Critikal review ini penulis buat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Research Methodologi in Islamic Studies. Semoga bermanfaat bagi penulis dan umumnya bagi siapa saja yang berminat dalam bidang pengembangan pembelajaran berbasis otak.


E.  DAFTAR PUSTAKA
Jensen, Eric, Pemelajaran Berbasis Otak, Paradigma Pengajaran baru, Jakarta : PT. Indeks Permata Puri Media, 2011.
Kurniasih Imas, Sani Berlin, Sukses mengimplementasikan Kurikulum 2013, Jakarta : Katapena, 2014.
Putra, Darma, Rahasia Membuat Otak Super, Jogjakarta : laksana, 2013.
Shichida, Ed.D, Makoto, Misteri Otak kanan, Mengungkap Misteri Otak kanan untuk Membuat Anak Jadi Genius, Gotsu City : Shichida Educational institute, Ltd, 2003.
A.Sousa, David, Bagaimana Otak yang Berbakat Belajar, Edise Kedua, Jakarta : PT. Indeks Permata Puri Media, 2012.
A.Sousa, David, Bagaimana Otak Belajar, Jakarta : PT. Indeks Permata Puri Media, 2012.
Eggen, Paul dan Kauchak Don, Straetegi dan model pembelajaran, mengajarkan konten dan keterampilan berpikir, jakarta : PT.Indeks Permata Puri Media, 2012.
Amir, Feisal, Jusuf, Prof, Dr, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Gema Insani Press, 1995.
http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_survei
http://april04thiem.wordpress.com/2010/11/12/studi-kepustakaan/




[1] Imas Kurniasih S.Pd dan Berlin  Sani,Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013: Memahami Berbagai Aspek Dalam Kurikulum 2013, (Jakarta :Kata Pena, 2014), 7.
[2] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta :PT indeks Permata Puri Media, 2011),  8.
[3] Darma Putra, Rahasia Membuat Otak Super, (Jogjakarta :  Laksana, 2013), 79.
[4] Darma Putra, Rahasia Membuat Otak Super, (Jogjakarta :  Laksana, 2013), 89.
[5] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta : PT indeks Permata Puri Media, 2011), 5.
[6] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta : PT indeks Permata Puri Media, Jakarta, 2011, P. 6
[7] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta : PT indeks Permata Puri Media, 2011), 7.
[8] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta : PT. indeks Permata Puri Media, 2011), 43.
[9] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru.(Jakarta : PT indeks Permata Puri Media, 2011), 58.
[10] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru. (Jakarta :PT indeks Permata Puri Media, 2011), 62.
[11] Eric Jensen, Pembelajaran Berbasis Otak Paradigma Pengajaran baru.(Jakarta : PT indeks Permata Puri Media 2011), 9.
[12] Prof Dr. Yusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam,( Jakarta : Gema Insani press, 1995), 37.
[13] Paul Eggen dan Don Kuchak,  Strategi dan Model Pembelajaran : mengajarkan konten dan keterampilan berpikir, (Jakarta : PT. Indeks Permata Puri Media, 2012), 27.
[14] http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_survei
[15] http://april04thiem.wordpress.com/2010/11/12/studi-kepustakaan/